Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Anggota DPR RI Sesalkan Kenaikan Iuran BPJS

Saleh Partaonan Daulay

 

Jakarta, Porosbali.com -Terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 64 Tahun 2020 soal kembali menaikan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mendapat sorotan berbagai pihak tanpa terkecuali politisi Senayan.

Salah satunya anggota Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay yang menyesalkan sikap pemerintah itu lantaran putusan Mahkamah Agung (MA) pada Maret 2020 telah membatalkan Perpres Nomor 75 Tahun 2019 tentang Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan.
"Saya sangat menyesalkan keluarnya Perpres 64/2020 tentang Perubahan Kedua Atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan. Pasalnya, di dalam Perpres itu, pemerintah kembali menaikkan iuran BPJS Kesehatan. Pemerintah terkesan tidak mematuhi putusan Mahkamah Agung yang membatalkan Perpres No.75/2019 yang menaikkan iuran BPJS Kesehatan,” kata  Saleh dalam rilisnya, Rabu (13/5/2020). 
 
Masyarakat tentu berharap agar putusan MA itu dapat dilaksanakan dan iuran tidak jadi dinaikkan. Saleh menilai, pemerintah sedang berselancar memainkan regulasi. Putusan MA dilawan dengan menerbitkan aturan baru. Mengeluarkan Perpres baru tentu jauh lebih mudah dibandingkan melaksanakan putusan MA.
 
"Kelihatannya pemerintah sengaja menaikkan iuran BPJS itu per 1 Juli 2020. Dengan begitu, ada masa di mana pemerintah melaksanakan putusan MA mengembalikan besaran iuran kepada jumlah sebelumnya, yaitu Kelas I sebesar Rp 80 ribu, Kelas II Rp 51 ribu, dan Kelas III Rp 25.500. Artinya, pemerintah mematuhi putusan MA itu hanya tiga bulan, yaitu April, Mei, dan Juni. Setelah itu, iuran dinaikkan lagi," imbuh Wakil Ketua MKD DPR ini.
 
Menurutnya UUD 1945 pasal 28 H ayat (1) jelas-jelas mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Negara harus memberikan jaminan bagi terselenggarannya pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

"Saya khawatir, dengan kenaikan iuran ini, banyak masyarakat yang tidak bisa membayar. Akibatnya, mereka tidak mendapatkan akses layanan kesehatan," keluh legislator dapil Sumatera Utara II ini.
Saleh mengkhawatirkan, pemerintah abai terhadap hak-hak konstitusional warga negaranya atas hak kesehatan. Uniknya, iuran untuk kelas III baru akan dinaikkan tahun 2021. Pemerintah, nilai Saleh lagi, kelihatannya ingin membawa pesan bahwa mereka peduli masyarakat menengah ke bawah.
 
"Saya melihat pemerintah tidak memiliki empati kepada masyarakat. Saat ini bukanlah waktu yang tepat menaikkan iuran BPJS Kesehatan. Masyarakat sedang kesulitan. Dipastikan banyak yang tidak sanggup untuk membayar iuran tersebut. Kita memahami negara tidak memiliki anggaran yang banyak. Tetapi, pelayanan kesehatan mestinya dijadikan program primadona. Seluruh lapisan masyarakat membutuhkan,” terangnya.
 
Perpres baru ini kata dia, akan mendapat penolakan dari masyarakat. Masyarakat tetap punya peluang untuk menggugat kembali kenaikan ini ke MA. Berkaca pada gugatan sebelumnya, potensi menang sangat tinggi. Mestinya hal ini sudah dipikirkan oleh pemerintah.

"Kan, repot sekali urusannya. Dinaikkan, lalu digugat. Gugatan menang, ganti Perpres dan naikkan lagi. Nanti digugat lagi, mungkin menang. Lalu pemerintah ganti Perpres, iuran dinaikkan lagi," sentil mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah. (Pbm3)


TAGS :

Komentar